BERBAGI

PURWAKARTA JABAR CAKRAWALA.CO , – Calon Bupati Purwakarta yang kini menjabat Anggota DPRD Jawa Barat H Rustandie terus melakukan upaya pendekatan kepada masyarakat sebagaimana telah lama dilakukan dirinya jauh-jauh hari sebelum rencana maju Pilkada Purwakarta.

Anggota DPRD Jabar dari Partai Nasdem ini sudah terbiasa memenuhi undangan berbagai kalangan masyarakat untuk berbagai acara termasuk menghadiri undangan pernikahan siapapun warga yang mengundangnya pasti menyempatkan hadir.

Seperti saat menghadiri undangan pernikahan salah seorang warga di kampung Cilegong, Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta
dengan mengenakan baju batik berwarna coklat dan berkopiah, Rustandie menyalami pengantin dan keluarganya serta tamu undangan lainnyya.

Rustandie juga mendoakan pengantin agar rumah tangganya sakinah mawadah warahmah warabul ghafur. “Rukun ya sampai kakek nenek bahkan akhir hayat,” ucapnya.

Mengetahui sosok Rustandi sebagai bakal calon Bupati Purwakarta, wargapun langsung mengerubutinya dan meminta poto dan berebut berbincang dengannya.

Rustandie pun langsung memperkenalkan diri bahwa betul dirinya Rustandie. “Betul ibu, saya ini Rustandie. Mohon doa restunya ya,” sahutnya saat menjawab pertanyaan salah seorang ibu warga dilokasi undangan tersebut.

Ketika ditanya wartawan terkait kegemaran bersentuhan langsung dengan warga masyarakat, Rustandie mengatakan bahwa pemimpin memang harus seperti itu, mau turun ke masyarakat.

“Saya tidak ingin menerima laporan saja. Saya ingin langsung mendengar dari masyarakat kesulitan apa yang sedang terjadi dan dihadapi masyarakat,” tegasnya.

Diakui mantan Ketua Partai Nasdem Purwakarta ini terkait  minimnya alat peraga atau alat sosialisasi dirinya seperti spanduk, baliho dan stiker.

“Saya memang sengaja mengurangi pemasangan alat peraga. Karena saya menginginkan ini. Bertatap muka langsung sehingga tahu apa yang sedang dirasakan masyarakat,” jelas dia.

Rustandi mengakui mungkin itu salah satu yang membedakan dirinya  dengan sejumlah bakal calon bupati Purwakarta lainnya yang lebih gencar menyebar dan memasang alat peraga pencalonan dengan spanduk dan baligo.

“Banyak juga sih, warga bertanya tanya bapak mana baliho dan spanduknya. Saya jawab, saya memang sengaja mengurangi pemasangan alat peraga, karena saya menginginkan begini. Tatap muka langsung,” ujarnya.

Ia pun menceritakan bahwa pencalonannya memang tidak dikehendaki oleh segelintir pihak. Ini terbukti, lanjut dia, saat alat peraga dipasang, kemudian cepat dilucuti oleh pihak tak bertanggung jawab.

“Begitulah. Ibarat jualan, barang punya saya mah cepat laku. Kalian bisa menilai sendiri, kira kira barang itu bagus atau jelek?,” pungkasnya berseloroh.***Lex/JMB